Jumat, 06 Mei 2011

Defensive Instinct

Hari ini,
terasa lahir kembali seperti hari kemarin..seperti biasa, setelah meditasi.
Tapi tentu ada yang berbeda, setidaknya imun ku walau melemah, renta mulai menua, ada respon peka yang ternalarkan visual hingga menyentuh saraf memberikan satu perlindungan.
Ini tentu sebuah upgrading yang mengantarkan manusia senantiasa (lagi-lagi) merekontruksi paradigma yang sebelumnya telah tersusun sebagai perspektif mata katak menuju mata elang. Congkak, yang pertama. Setidaknya sebelum terlambat menyadari
meski kepala kini sekeras batu,
mata setajam pisau,
kaki dan tangan secepat pemantik kaliber
dan kekuatan berfikir sekejap suara.
Lupa, yang kedua. Meski ingatan tak berkapasitas data memory,
synaps tak menyimpan lagi kebiasaan-kebiasaan dulu. Setidaknya tak begitu buruk ketika bernostalgia mengingat momen bersama teman lama yang kelak akan menjadi momen berikutnya.
Over-Aktualisasi, meski kadang diri kehilangan kontrol seperti kehilangan remote. Kau tak akan tahu kapan semua terjadi.
Setidaknya, kini kau telah saksikan kehilangan kontrol terjadi pada ragam karakter, pembacaan ku 'sama saja'. Tapi saya, saya mampu mengontrol diri, meditate give me a sanctuary to defensive instinct. Setidaknya, meditasi setelah shalat bagi seorang muslim akan memberi ketenangan seperti seorang Ottoman, ketika kau bertemu dengan orang-orang sekeliling mu, dari kalangan mana pun itu, haha..
Dan ini akan menciptakan damai di hati.