Jumat, 04 November 2011

Ya ada, Ruang Spasial



Adakah perbendaharaan kata yang tepat dalam bahasa/EYD/KBBI yang dapat mendeskripsikan ruang yang lain selain ruang (room)? Bahkan dalam bersastra bahasa pun saya terbatas hanya dalam ruang yang lain ini. Ini bukan soal universalitas atau apa pun yang menjadi pembenaran untuk sebuah pendeskripsian. Saya dikungkung dalam ruang yang lain itu sendiri, tanpa pemisah baik itu berupa garis, partisi masif, bidang linier atau apa pun. Langit terbentang luas, tidakkah ruang ku ruang mu?

Sekarang mengertikah kamu tentang ruang itu?
Saya belum.

Adakah pembatasan ruang bagi kehidupan dan kematian? Bahkan penggambaran visual dalam fotografi atau sinematograf hanya menunjukkan keadaan suram dengan permainan hue, saturasi atau brightness. Sekali lagi ini bukan tentang masalah visualisasi yang mencoba mempersepsikan sebuah penciptaan manusia sendiri, dengan sebuah batasan baik itu berupa warna atau pun rona. Kematian yang sebenarnya hanya pada saat proses berpisahnya antara ruh dan raga, firmitas dan utilitas, convenience and strength, fungsi dan bentuk. Terjaga adalah tanda sebuah kehidupan. Terlelap dan kemudian bermimpi adalah sebuah proses penciptaan, dan itu bukan kematian. Dan saat setelah kematian yang disebutkan adalah proses perjalanan yang masih sebuah misteri. Siapa pun hanya tidak akan pernah tahu, kapan, dimana dan apa yang awal kali mereka berada di suatu tempat dan kejadian saat bermimpi menjajaki sebuah tempat baru. Hanya akan tersadar di tengah-tengah kejadian dan saat itu pula semua akan berakhir menjadi nyata dalam keadaan jaga. Segalanya terbentuk tanpa tahu awal dari sebuah proses, bukankah itu ruang ku, ruang mu?

Sekarang mengertikah kamu tentang ruang itu?
Saya belum.

Adakah pembentukan sebuah ruang secara iseng? Bahkan yang mereka -selain kita- ketahui untuk membentuk sebuah ruang cukup dengan membatasi karena manusia punya intuisi terhadap privasi masing-masing. Ini bukan masalah analisa atau rasional semata. Teori ergonomis atau teori-teori ruang yang lain bahkan bisa saling mematahkan. Apa yang bisa Saya lakukan hari ini selain mengonsumsi anestesi? Otak ini begitu kompleks, tidakkah ruang ku, ruang mu?

Sekarang mengertikah kamu tentang ruang itu?
Saya belum.

Adakah kita menjawab tanpa pertanyaan. Bahkan sebenarnya jawaban itu telah ada lebih dulu sebelum pertanyaan lain muncul. Mengawali sebuah frase itu seperti memulai merasakan dan bertanya : Sekarang apakah kamu sudah 'meruang'? Saya, tdak tahu.

Adakah Saya meruang dalam ruang?
Ataukah Saya sedang berfilsafat tentang ruang?
Jika Saya buntu, maka kembali ke awal.

#bacadaribawah

Jumat, 06 Mei 2011

Defensive Instinct

Hari ini,
terasa lahir kembali seperti hari kemarin..seperti biasa, setelah meditasi.
Tapi tentu ada yang berbeda, setidaknya imun ku walau melemah, renta mulai menua, ada respon peka yang ternalarkan visual hingga menyentuh saraf memberikan satu perlindungan.
Ini tentu sebuah upgrading yang mengantarkan manusia senantiasa (lagi-lagi) merekontruksi paradigma yang sebelumnya telah tersusun sebagai perspektif mata katak menuju mata elang. Congkak, yang pertama. Setidaknya sebelum terlambat menyadari
meski kepala kini sekeras batu,
mata setajam pisau,
kaki dan tangan secepat pemantik kaliber
dan kekuatan berfikir sekejap suara.
Lupa, yang kedua. Meski ingatan tak berkapasitas data memory,
synaps tak menyimpan lagi kebiasaan-kebiasaan dulu. Setidaknya tak begitu buruk ketika bernostalgia mengingat momen bersama teman lama yang kelak akan menjadi momen berikutnya.
Over-Aktualisasi, meski kadang diri kehilangan kontrol seperti kehilangan remote. Kau tak akan tahu kapan semua terjadi.
Setidaknya, kini kau telah saksikan kehilangan kontrol terjadi pada ragam karakter, pembacaan ku 'sama saja'. Tapi saya, saya mampu mengontrol diri, meditate give me a sanctuary to defensive instinct. Setidaknya, meditasi setelah shalat bagi seorang muslim akan memberi ketenangan seperti seorang Ottoman, ketika kau bertemu dengan orang-orang sekeliling mu, dari kalangan mana pun itu, haha..
Dan ini akan menciptakan damai di hati.

Minggu, 27 Februari 2011

DARI JENDELA

Malam tadi aku bergelut dalam dunia yang tak ku tahu apa namanya… Bahkan keadaan jaga ku tak tangkap. Memori loading… ku harap dapat.


Sambil meratap ke sekeliling, dalam satu kamar ini penuh dengan manusia tak karuan tidur tergeletak. Coba ku buka tirai jendela, nampak lapangan golf di tengah kota dan traffic yang sepertinya bukan kota ku. Ku buka kulkas dan minum air mineral dan masuk wc. Banyak muntah?! Apa ini ? Acuh ku siram saja larut dengan urine ku. Otak ku mulai sedikit bekerja, setelah melihat angka 30xx di depan kamar. Saya di kamar salah satu hotel mewah di bilangan Senayan. Mencoba perkuat ku tengok lagi keluar jendela, terlihat Gelora Bung Karno, pas..! Ku lihat jam tangan ku pukul 06:15. Hari ini hari Senin, 16 November 2010. Agak sadar duduk di sofa, kembali teguk air mineral ku hitung jumlah manusia dalam kamar ini, 1,2,3,4,5,…,18. Buset! ini Double Room muat. hahaha
Kembali ku tatap Jakarta pagi ini. Hari Senin aktifitas biasa setiap minggunya. Padat! Sumpek! Polusi! Ini ibukota ku? Cerminan Negara ku? Bagaimana yang bukan ibukota?
Aduh, otak ku seperti biasanya tidak memikirkan satu hal..lagi-lagi synaps bekerja kebiasaan pagi, Lymbic dan Neo-Cortex pada beda juga. Apa yang terjadi pada otak ku semalam? Kalau dia rusak pasti aku tak di hotel, tapi rumah sakit/jiwa, tapi kenapa seperti ada yang ter-skip dari pertemuan ku semalam langsung dengan orang-orang yang biasanya hanya menjadi obyek visualisasi dalam televisi ku, setelah pertemuan intelejen berkedok fotografer itu, beralih ke gelap dan terang menuju pagi ini. Sudahlah, ku tunggu saja sampai teman-temanku bangun dan kutanyakan, mungkin dia sadar.
(sementara menunggu…)

Terkadang kekuatan pikiran itu terlalu besar sehingga kita butuh pikiran orang lain untuk mengurangi energi yang terlalu besar sampai kalori pun berkurang.

Padahal, Kalau pun aku mau…

Sel dalam otak ku bisa menggerogoti seluruh tubuh ku membuat prototype organ fibrin dan seluruh tubuh ku menjadi otak semua!
dan seluruh tubuh berfikir, kemudian siapa yang akan mengerjakan rencana?
Tak ada lagi indera, aku kebal akan respon penghantar cium, gerak, lihat, raba, dengar, dan rasa…
Mata ku buta untuk melihat. Hidung ku tersumbat untuk membau. Telinga ku tuli untuk mendengar. Kulit ku mati saraf tak meraba dan hati ku kebal akan rasa.

Kalau pun aku mau…

Sel dalam otakku ku ubah dengan micro particle chip, dan seluruh tubuh ku ku lapisi baja semua! Segalanya diatur oleh alur garis emas penghantar perintah bukan saraf.
Saat tombol off ditekan ketika malam hari, raga baja ku terdiam kaku tapi tak berfikir. Terpejam berbaring tapi tak bermimpi. Segala sistem mati tanpa perintah.

Kalau pun aku mau…
Tapi…
Wall-E dan Eva.. Bagaimana bisa? Ah, bodoh sekali kau.. Itu hanya skenario, fiktif!

Tapi… Hidup ini terlalu indah disesali.

-Ah, kenapa ini otak…?? sebelum jauh-

Orang tepar ini belum bangun juga! Apa yang buat mimpinya lebih indah dari kehidupan nyata? Mengapa dia ingkari mata yang diciptakan Tuhan untuk melihat? Ia memilih lebih lama untuk memejamkan.

-Aaaaah, sebelum jauh(lagi)-
Mungkin, orang-orang ini dipacu zat untuk tidur enak? Tapi muntah itu?

-Aaaaaaaaaaaahh, sebelum jauh (lagi-lagi)-
Muntah?
Tunggu! Astaga!
Ku dapat jawabannya! Tapi bukan jawaban pasti yang saya peroleh tentang apa yang terjadi semalam. Karena untuk yang satu itu, saya masih berharap teman-teman ku yang bercerita dan aku sadar supaya kesannya lebih dramatis. Jawaban lain yang saya dapat dari bejibun pertanyaan-pertanyaan ku tadi, “Apa yang membuat mimpinya lebih indah dari kehidupan nyata?”…ituitu dia… Jawabannya sebaiknya aku tidur sekarang agar mimpi itu ku ketahui lebih indah daripada kehidupan nyata yang berusaha ku ingat padahal sebenarnya telah ku ketahui. Semuanya akan terlihat dramatis ketika aku bangun terakhir atau kita bangun bersama dan serentak riak suara panik bangun telat dan kita sama-sama bercerita ketika perjalanan ke Cibubur bertemu klien Senin dan Bandung malam nanti.

Semua terlihat lebih tidak berdosa, mereka bangun dan semua berjalan sesuai rencana. Langkah saya tepat, semuanya aman. Tak ada yang tahu, saya yang pertama menyadari apa yang terjadi semalam. Dan tak ada yang tahu, kalau saya menyadari mimpi itu lebih indah daripada kehidupan nyata karena kau punya remote untuk mengontrolnya -kapan skip,rewind,stop,pause atau play!- Dan kini semua terjawab. Entah ini seperti Jumper, Inception , atau malah Hangover. Hahahaha


Sampai kelar urusan di Cibubur, malam Takbiran Idul Adha dan Bacardi mengiringi perjalanan ke Bandung dan ku ulang lagi cerita semalam, ku harap pertanyaan-pertanyaan lain yang belum terjawab dapat terselesaikan walaupun dalam ruang berbeda, dari jendela mobil.