Senin, 01 September 2008

Warna menurut ilmu Feng Shui

Prinsip Tata Warna (Coloring) berdasarkan Fengshui
“Harmonisasi warna lebih terkait pada kesenangan masing–masing individu, dan respon emosional yang berfariatif dari tiap–tiap orang”
Ilmu Fengshui menjelaskan bahwa untuk mengetahui pilihan warna yang cocok bagi seseorang, perhitungannya tetap mengacu pada ‘lima unsur’ yang dihubungkan dengan tahun kelahirannya. Dengan menerapkan konsep rumusan ‘lima unsur’ inilah kita dapat menentukan warna apa yang cocok dengan diri kita. Warna ini dapat diterapkan pada warna rumah atau interior didalamnya. Penetapan warna-warna tersebut dapat dilihat pada diagram dibawah.
Logikanya
Fungsi dan kegunaan warna dapat juga mempunyai efek emosional. Pengalaman empiris didapatkan dari beberapa hal, contohnya restoran yang dapat meningkatkan jumlah pengunjungnya setelah merubah tata warna yang cocok, dan membuat ruangannya menjadi lebih menyenangkan untuk dikunjungi. Warna terkait dengan aspek psikologis seseorang. Didalam ilmu arsitektur, setiap warna dapat menimbulkan kesan berbeda–beda terhadap keberadaan sebuah ruang. Sebagaimana kesan gelap terang yang dapat mempengaruhi keberadaan sebuah ruang.
Sejarah dimulainya penggunaan warna di dalam arsitektur, sudah berasal dari jaman pre–historic. Pigmen hitam, merah dan coklat sudah ditemukan dalam gambar–gambar yang ada di gua–gua prasejarah. Selanjutnya, bangsa Yunani kuno, kebanyakan menggunakan empat warna yaitu putih, kuning, merah dan hitam dalam lukisannya. (Architecture and Color, 1972:1)
Warna didalam arsitektur, bertujuan untuk menonjolkan kesan estetis terhadap desain sebuah bangunan. Tujuan–tujuan tersebut yaitu :
Menciptakan sebuah atmosfer. Warna–warna cerah ditujukan untuk penonjolan suasana keceriaan, dan warna minimalis primer seperti putih ditujukan untuk menciptakan kesan keagungan dan kemegahan.
• Warna menunjukkan kesatuan, atau justru menonjolkan perbedaan–perbedaan yang ada. Penyeragaman warna akan membuat kesan suatu kesatuan, sedangkan berbagai variasi warna akan menonjolkan ‘rasa’ yang berbeda–beda.
• Warna mengekspresikan karakter dari suatu material. Suatu bangunan dengan atap genteng berwarna merah, berdinding abu-abu dari material batu alam, dan warna coklat kayu untuk jendela dan pintunya, menegaskan setiap esensi karakter dari material bahan bangunannya.
• Warna mendefinisikan suatu bentuk. Sebuah garis, bidang dua dimensi, atau ruang tiga dimensi dapat terlihat apabila warnanya kontras dengan sekelilingnya.
• Warna mempengaruhi proporsi. Material dengan warna kontras bergaris–garis horizontal akan menimbulkan kesan lebar, sedangkan warna kontras bergaris–garis vertikal akan menimbulkan kesan tinggi.
• Warna membentuk skala. Bangunan dengan warna seragam, akan membentuk kesan sebuah monolith.
• Warna memberikan kesan berat. Warna–warna gelap akan membuat kesan berat pada ruang, sedangkan warna–warna cerah akan memberikan kesan ringan kepada sebuah ruang.
(Architecture and Color, 1972:5-6)
Warna merah, sebagai salah satu dari warna primer, dapat menimbulkan kesan kegairahan, ‘passion and desire’, semangat yang dimunculkan oleh kesan warna merah ini sehingga baik untuk digunakan pada ruang–ruang seperti ruang makan untuk meningkatkan selera makan, dan ruang kerja atau kantor untuk meningkatkan semangat dalam bekerja.
Warna putih dan warna cerah lainnya, dapat diterapkan untuk menimbulkan kesan lapang atau luas. Warna putih ini, cocok untuk digunakan pada ruang–ruang yang tidak begitu luas, semisal penggunaan keramik berwarna cerah atau cat warna putih pada tembok dan plafond.
Logika Tata Warna
Penataan warna dalam ilmu arsitektur mempunyai berbagai macam tujuan, yang muaranya adalah untuk menambah kesan estetika dari sebuah bangunan atau ruangan. Warna dibagi manjadi tiga bagian yaitu warna primer, sekunder dan tersier. Tujuan pemberian warna pada sebuah bangunan atau ruangan antara lain yaitu agar :
• Menambah kesan luas, bisa didapatkan dengan menggunakan warna–warna cerah. Berguna untuk ruang–ruang yang tidak begitu luas.
• Memperkecil kesan ruang, didapatkan dengan menggunakan warna–warna gelap. Berguna untuk ruang yang terlalu luas.
• Sebagai vocal point, didapatkan dengan menabrakkan warna cerah dengan warna gelap yang akan mengesankan sebuah kekontrasan.
• Menimbulkan kesan minimalis, dengan cara menggunakan satu jenis warna tertentu, atau maksimal tiga warna (putih, merah, hitam, silver atau abu–abu, dll).
• Menimbulkan kesan etnik, dengan cara menggunakan warna–warna natural (hijau, kuning dan coklat).
• Menimbulkan kesan klasik, dengan cara menggunakan warna dasar putih atau krem.
• Menimbulkan kesan modern, dengan cara menggunakan warna–warna paduan antara putih, biru, abu–abu, merah, dll.

Tidak ada komentar: