Sabtu, 15 November 2008

Rock 'n Roll
mulai kembali merambah perlahan musik dunia...

Senin, 10 November 2008

PROCRASTINATEOUR LATEN


beuuh,,,hari ini tidak kerja tugas lageee....sudah sadar orang 'PROCRASTINATEOUR' tetap saja nunda2.

Senin, 01 September 2008

Warna menurut ilmu Feng Shui

Prinsip Tata Warna (Coloring) berdasarkan Fengshui
“Harmonisasi warna lebih terkait pada kesenangan masing–masing individu, dan respon emosional yang berfariatif dari tiap–tiap orang”
Ilmu Fengshui menjelaskan bahwa untuk mengetahui pilihan warna yang cocok bagi seseorang, perhitungannya tetap mengacu pada ‘lima unsur’ yang dihubungkan dengan tahun kelahirannya. Dengan menerapkan konsep rumusan ‘lima unsur’ inilah kita dapat menentukan warna apa yang cocok dengan diri kita. Warna ini dapat diterapkan pada warna rumah atau interior didalamnya. Penetapan warna-warna tersebut dapat dilihat pada diagram dibawah.
Logikanya
Fungsi dan kegunaan warna dapat juga mempunyai efek emosional. Pengalaman empiris didapatkan dari beberapa hal, contohnya restoran yang dapat meningkatkan jumlah pengunjungnya setelah merubah tata warna yang cocok, dan membuat ruangannya menjadi lebih menyenangkan untuk dikunjungi. Warna terkait dengan aspek psikologis seseorang. Didalam ilmu arsitektur, setiap warna dapat menimbulkan kesan berbeda–beda terhadap keberadaan sebuah ruang. Sebagaimana kesan gelap terang yang dapat mempengaruhi keberadaan sebuah ruang.
Sejarah dimulainya penggunaan warna di dalam arsitektur, sudah berasal dari jaman pre–historic. Pigmen hitam, merah dan coklat sudah ditemukan dalam gambar–gambar yang ada di gua–gua prasejarah. Selanjutnya, bangsa Yunani kuno, kebanyakan menggunakan empat warna yaitu putih, kuning, merah dan hitam dalam lukisannya. (Architecture and Color, 1972:1)
Warna didalam arsitektur, bertujuan untuk menonjolkan kesan estetis terhadap desain sebuah bangunan. Tujuan–tujuan tersebut yaitu :
Menciptakan sebuah atmosfer. Warna–warna cerah ditujukan untuk penonjolan suasana keceriaan, dan warna minimalis primer seperti putih ditujukan untuk menciptakan kesan keagungan dan kemegahan.
• Warna menunjukkan kesatuan, atau justru menonjolkan perbedaan–perbedaan yang ada. Penyeragaman warna akan membuat kesan suatu kesatuan, sedangkan berbagai variasi warna akan menonjolkan ‘rasa’ yang berbeda–beda.
• Warna mengekspresikan karakter dari suatu material. Suatu bangunan dengan atap genteng berwarna merah, berdinding abu-abu dari material batu alam, dan warna coklat kayu untuk jendela dan pintunya, menegaskan setiap esensi karakter dari material bahan bangunannya.
• Warna mendefinisikan suatu bentuk. Sebuah garis, bidang dua dimensi, atau ruang tiga dimensi dapat terlihat apabila warnanya kontras dengan sekelilingnya.
• Warna mempengaruhi proporsi. Material dengan warna kontras bergaris–garis horizontal akan menimbulkan kesan lebar, sedangkan warna kontras bergaris–garis vertikal akan menimbulkan kesan tinggi.
• Warna membentuk skala. Bangunan dengan warna seragam, akan membentuk kesan sebuah monolith.
• Warna memberikan kesan berat. Warna–warna gelap akan membuat kesan berat pada ruang, sedangkan warna–warna cerah akan memberikan kesan ringan kepada sebuah ruang.
(Architecture and Color, 1972:5-6)
Warna merah, sebagai salah satu dari warna primer, dapat menimbulkan kesan kegairahan, ‘passion and desire’, semangat yang dimunculkan oleh kesan warna merah ini sehingga baik untuk digunakan pada ruang–ruang seperti ruang makan untuk meningkatkan selera makan, dan ruang kerja atau kantor untuk meningkatkan semangat dalam bekerja.
Warna putih dan warna cerah lainnya, dapat diterapkan untuk menimbulkan kesan lapang atau luas. Warna putih ini, cocok untuk digunakan pada ruang–ruang yang tidak begitu luas, semisal penggunaan keramik berwarna cerah atau cat warna putih pada tembok dan plafond.
Logika Tata Warna
Penataan warna dalam ilmu arsitektur mempunyai berbagai macam tujuan, yang muaranya adalah untuk menambah kesan estetika dari sebuah bangunan atau ruangan. Warna dibagi manjadi tiga bagian yaitu warna primer, sekunder dan tersier. Tujuan pemberian warna pada sebuah bangunan atau ruangan antara lain yaitu agar :
• Menambah kesan luas, bisa didapatkan dengan menggunakan warna–warna cerah. Berguna untuk ruang–ruang yang tidak begitu luas.
• Memperkecil kesan ruang, didapatkan dengan menggunakan warna–warna gelap. Berguna untuk ruang yang terlalu luas.
• Sebagai vocal point, didapatkan dengan menabrakkan warna cerah dengan warna gelap yang akan mengesankan sebuah kekontrasan.
• Menimbulkan kesan minimalis, dengan cara menggunakan satu jenis warna tertentu, atau maksimal tiga warna (putih, merah, hitam, silver atau abu–abu, dll).
• Menimbulkan kesan etnik, dengan cara menggunakan warna–warna natural (hijau, kuning dan coklat).
• Menimbulkan kesan klasik, dengan cara menggunakan warna dasar putih atau krem.
• Menimbulkan kesan modern, dengan cara menggunakan warna–warna paduan antara putih, biru, abu–abu, merah, dll.

Warna (colour)

Warna dalam arsitektur dipergunakan untuk menekankan atau memperjelas karakter suatu objek atau memberikan aksen pada bentuk dan bahannya.
Beberapa teori tentang warna yaitu antara lain:

Isaac Newton, menemukan teori mangenai cahaya pembiasan warna malalui prisma, yaitu bahwa apabila seberkas cahaya misalnya cahaya matahari melalui prisma akan terurai menjadi spektrum cahaya yang menghasilkan panjang gelombang masing-masing yang akan sampai ke mata atau sebuah bidang. Adapun cahaya yang diciptekan berupa yang seperti kita kenal sekarang yaitu pelangi yang terdiri atas 7 (tujuh) warna, yaitu :

1. merah
2. jingga
3. kuning
4. biru
5. nila
6. ungu
7. hijau

Le Blond, meneliti bahwa penelitian Isaac Newton mengenai warna pelangi dapat disederhanakan menjadi 3 (tiga) warna saja yaitu : merah, kuning, biru, yang dikenal sebagai warna dasar.

Brewster, seorang sarjana kebangsaan Inggris yang menyelidiki warna atas dasar fisik dan pigmen warna.

- Fisik : keadaan warna itu sendiri, seperti merah, kuning, biru.
- Pigmen : melalui Prisma.

Albert Munsell, meneliti tidak hanya keadaan warna, tetapi juga efek warna (Fisik dan Psychio). Menyelidiki 3 warna dasar (merah, kuning, biru). Albert Munsell juga menggolongkan warna atas dasar :

- Hue : kualitas warna atau intensitas panjang gelombang.
- Value : gejala cahaya dari warna yang menyebabkan pancaran warna
dalam perbandingan hitam dan putih.
- Chrome : penyimpangan terhadap warna putih dan kejenuhan warna.

Prang, menyatakan bahwa secara psikologis warna dibagi 3 dimensi :

- Hue : berkaitan dengan temperamen panas - dinginnya warna.
- Value : berkaitan dengan gelap – terangnya warna.
- Intensity : kekuatan pencahayaan warna.

Prang menggolongkan warna dalam beberapa kelas :
1. Primary (utama) : adalah warna utama atau warna dasar, seperti merah,
kuning, dan biru.
2. Binary (sekunder) : adalah warna yang terjadi dari percampuran 2 warna
Primary,misalnya : merah + kuning = orange
biru + merah = violet
kuning + biru = hijau
3. Intermediary (warna utama) : adalah percampuran warna antara primary dan binary.
4. Tertiary : adalah percampuran warna dari 2 binary.
5. Quarternary : adalah percampuran warna dari 2 tertiary.



Selain itu kita juga menegnal adanya percampuran antara warna murni dengan warna kutub yang disebut dengan :

- Tint : warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna muda.
- Shade : warna murni dicampur dengan hitam sehingga terjadi warna tua.
- Tone : warna murni dicampur dengan warna abu-abu (percampuran putih
dan hitam) sehingga terjadi warna tanggung.

Warna tint, shade, dan tone ini disebut warna-warni pastel.

Komposisi warna atau susunan warna dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang umum dikenal adalah yang berdasarkan pada tiga warna dasar/pokok, akan tetapi ada juga yang berdasarkan empat warna dasar/pokok. Selain itu, verdasarkan warna dasar tersebut komposisi warna juga dapat bersifat sebagai berikut :

a. Keselarasan yang Berhubungan
Artinya warna – warna harmonis yang diambil dari warna yang berhubungan, yaitu :

1) Monochromatic (satu warna) yaitu bilamana dipergunakan hanya satu warna sebagai dasar komposisi yang menghasilkan nada-nada warna, bayangan, dan variasai dari warna-warna tersebut.
2) Analogus (berurut), yaitu bilamana mempergunakan dua warna yang letaknya di dalam lingkaran warna yang berurut dan sama sifatnya (misalkan sama-sama bersifat sejuk).
b. Keselarasan yang Tidak Berhubungan
Artinya warna-warna tampak selaras/harmonis dan warna-warna tersebut adalah
sederajat antara lain :

1) Komplementer, yaitu jika yang dipergunakan warna dasar adalah dua warna dasar adalah dua warna yang berhadapan posisinya dengan warna primary yang sifatnya berlawanan :
Bilamana kedua warna tersebut berhadapan langsung disebut Direct Complementary.
Sedangkan bila letaknya membentuk sudut maka disebut Split Complementary.
2) Polychromatic
Yaitu komposisi yang mempergunakan lebih banyak warna dari apa yang disebut diatas. Biasanya kesan dari komposisi ini sangat ramai. Selain memperhatikan sifat-sifat dari komposisi/susunan warna tadi ada beberapa prinsip pada penyusunan warna yang harus diperhatikan, yaitu :

- Harmoni : suatu keselarasan warna yang monochromatic yang
diciptakan di sekitar hue
- Kontras : mempunyai susunan warna dari variasai value dan
intensity tertentu.
- Aksen : warna akan merupakan variasai susunan warna yang
ada